manfaat lari bagi tubuh manusia

Manfaat Olahraga Lari Bagi Tubuh Manfaat Olahraga Lari Bagi Tubuh

Sehatbrunei.com – Ketika kamu berolahraga, tubuh kamu melepaskan hormon khusus yang disebut endorfin atau hormon kebahagiaan. Saat kandungan endorfin dalam darah meningkat, kamu akan mengalami sedikit perasaan euforia dan perasaan depresi pun menghilang. Jika kamu memiliki masalah dengan tidur, olahraga lari dapat membantu kamu mengurangi masalah ini. Cobalah untuk berlari setiap hari di pagi hari. Rutin berlari akan menghilangkan masalah insomnia sehingga meningkatkan kualitas tidur dan membuat pola hidup menjadi lebih baik. Mengurangi kecemasan adalah salah satu manfaat olahraga lari.

Dengan berlari, kamu akan mengalami penurunan ketegangan otot sehingga mengurangi kecemasan yang dialami. Selain itu, berlari dengan banyak orang juga meningkatkan kepercayaan diri. Berkat manfaat olahraga lari yang berdampak positif pada kesehatan fisik, secara otomatis kepercayaan diri pun akan meningkat. Misalnya, ketika kamu berhasil menurunkan berat badan, kamu akan semakin percaya diri saat tampil di hadapan publik. Sebagian besar orang melakukan olahraga lari di hari minggu pagi di jogging track yang disediakan khusus untuk mereka yang ingin berolahraga. Selain menjadi hari libur nasional, hari minggu juga dimanfaatkan banyak orang untuk berinteraksi dengan orang-orang yang jarang ditemui. Olahraga lari berpengaruh terhadap peningkatan mood, sehingga mampu menumbuhkan semangat dalam bekerja. Bahkan, menyempatkan diri berolahraga di tengah jam kerja juga dapat meningkatkan performa kerja.

Alokasi waktu pelajaran Penjas rata-rata satu kali per minggu, selama 2 x 45 menit dalam setiap semester (kurang lebih enam bulan) dengan pertemuan sebanyak 12 kali. Pengetesan sering menggunakan waktu yang cukup lama. Untuk melakukan satu butir tes kesegaran jasmani saja, missal tes lari 2,4 km (tes aerobik) diperlukan satu pertemuan bahkan kadang lebih. 5. Masalah lain adalah evaluasi seolah-olah hanya dapat dilakukan oleh ahli statistik, sebab statistik diperlukan untuk pengolahan data.

Bila demikian guru harus bekerja ekstra keras, menyisihkan waktu dan mengeluarkan tenaga yang lebih banyak, dan konsentrasi penuh pada evaluasi. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah bagaimana mengurangi masalah tersebut di atas? Guru penjas di SMA/MA sering dihadapkan dengan masalah jumlah siswa yang cukup banyak mulai dari Kelas X sampai Kelas XII, bahkan ditambah dengan siswa dari kelas paralel. Lebih rumit lagi karena yang dipelajari adalah sesuai dengan kemampuan fisik dan perkembangan mental yang berbeda-beda. Guru Penjasorkes harus menangani siswa sebanyak 400 sampai 500 perminggunya.

Kurangnya sarana dan prasarana pembelajaran penjas merupakan salah satu isu yang cukup merata dan sangat terasa oleh para pelaksana penjas di lapangan. Pada umumnya sekolah-sekolah di Indonesia pada setiap jenjang pendidikannya selalu dihadapkan dengan permasalahan kekurangan sarana dan prasarana ini. Tidak sedikit sekolah di Indonesia, khususnya di daerah perkotaan tidak memiliki tempat atau lahan untuk melakukan aktivitas jasmani, khususnya yang berkaitan dengan olahraga misalnya lapangan. Walaupun ada, jumlahnya tidak proporsional dengan jumlah siswa, seringkali ditambah dengan kualitasnya yang kurang memenuhi tuntutan pembelajaran. Sarana dan prasarana ini meliputi alat-alat, ruangan, dan lahan untuk melakukan berbagai aktivitas Pendidikan Jasmani, termasuk olahraga.

Baca Juga  : Manfaat Olahraga Bagi Kesehatan

Idealnya sarana dan prasarana ini harus lengkap, tidak hanya yang bersifat standar dengan kualitas yang standar pula, tetapi juga meliputi sarana dan prasarana yang sifatnya modifikasi dari berbagai ukuran dan berat ringannya. Modifikasi ini sangat penting untuk melayani berbagai kebutuhan tingkat perkembangan belajar anak didik di sekolah bersangkutan yang terkadang sangat beragam karakteristik kemampuannya. Keberhasilan kurikulum Pendidikan Jasmani pada setiap jenjang pendidikan sampai saat ini masih dirasakan samar. Ukuran yang digunakan oleh setiap orang dalam menafsirkan keberhasilan program masih bersifat samara dan cenderung bersifat lokal belum menyeluruh sebagaimana tercantum dalam tujuannya. Namun demikian salah satu indikator yang mungkin dapat kita telusuri adalah karakteristik para lulusannya. 1. Memiliki keterampilan-keterampilan yang penting untuk melakukan bermacam-macam kegiatan fisik. 2. Bugar secara fisik. 3. Berpartisipasi secara teratur dalam aktivitas jasmani. 4. Mengetahui akibat dan manfaat dari keterlibatandalam aktivitas jasmani. 5. Menghargai aktivitas jasmani dan kontribusinya terhadap gaya hidup yang sehat.

Permainan dan atletik semakin terdesak oleh olahraga Jepang, antara Kendo yang dilakukan dengan tongkat bambu. Pada masa kemerdekaan mulai di kenal istilah Pendidikan Jasmani, Ini terbukti dengan adanya saran tertulis dari Panitia Penyelidik Pengajaran (Desember 1945) mengenai pendidikan dan pengajaran, diantaranya mengenai gerak badan. Panitia menyatakan bahwa pendidikan baru lengkap kalau ada pendidikan jasmani (istilah baru bagi gerak badan), sehingga tercapai suatu harmoni (keselarasan) dalam proses pendidikan. Pendidikan jasmani merupakan usaha untuk membuat bangsa Indonesia sehat dan kuat lahir batin.

Oleh karena itu pendidikan jasmani berkewajiban juga memajukan dan memelihara kesehatan badan, terutama dalam arti preventif, tapi juga secara korektif. Pada tahun 1961 dibentuklah Departemen Olahraga karena diperlukan badan yang lebih tinggi kedudukannya untuk mengelola pendidikan jasmani dan olahraga yang sejak saat itu dinyatakan menjadi satu dalam istilah olahraga. Jadi sejak saat itu tidak ada lagi pembedaan di antara keduanya karena olahraga adalah istilah Indonesia asli dan bukan terjemahan dari sport dan physical education. Sikap dan sifat mendidik sudah otomatis tercakup dalam istilah olahraga. Dalam masa setelah peristiwa berdarah G 30 S/PKI, olahraga yang telah menurun prioritasnya itu semakin parah keadaanya dan prestasi yang tinggi hanya dicapai oleh olahragawan bekas TC Asian Games/ GANEFO saja.